Banyak yang salah sangka terhadap Bir Pletok. Kata Bir dalam minuman ini membuat orang berpikir minuman ini dapat memabukkan. Entah ini benar atau tidak, tapi inilah cerita yang saya dapatkan
dari salahsatu Dosen Antropologi UI, Doktor Yasmin Zaki Sahab. Ceritanya
begini, pada zaman Belanda, kaum pribumi Betawi terbiasa melihat
orang-orang Belanda yang suka minum bir. Minuman penuh busa itu cukup
menarik perhatian mereka, tapi mereka tak berani ikut meminumnya karena
ketaatannya pada agama Islam yang dianut kebanyakan masyarakat Betawi.
“Masak sih, kita nggak bisa bikin minuman berbusa kayak orang Belanda
itu?” demikian kira-kira celetukan beberapa orang Betawi pada zaman
itu. Lalu beberapa orang Betawi yang merasa tertantang pun mulailah
membuat minuman untuk menyaingi minuman beralkohol itu. Tentu saja bukan
untuk mabuk-mabukan. Bahan-bahannya justru untuk menyehatkan dan
menyegarkan badan, seperti : jahe, biji pala, daun pandan, cabe jawa,
kayu manis, sereh, cengkeh, daun jeruk, kapulaga, dan kayu secang. Nah,
kayu secang inilah yang menjadi pewarna alami dari Bir Pletok ini.
Ketika minuman itu selesai dibuat, mereka agak kecewa, karena “bir”
buatan mereka tidak berbusa seperti bir yang diminum orang Belanda itu.
Tapi mereka tak kehilangan akal. Minuman itu pun dimasukkan ke dalam
bambu, dan dikocok-kocok untuk menimbulkan busa. Pada saat dikocok itu,
terdengar suara PLETOK-PLETOK! Akhirnya, jadilah minuman itu dinamakan
BIR PLETOK. Hingga sekarang.
Kalau dulu Bir Pletok dimasukkan ke bambu dengan dicampur es batu,
maka di Kedai saya, di Kawasan Industri MM2100, Bir Pletok saya masukkan
ke shaker, dan dikocok bersama es batu. Selain lebih cepat dingin dan
merata, juga berkesan atraktif. Dan yang tak ketinggalan, busa yang munthuk-munthuk cukup menggiurkan untuk segera diteguk. Yang belum pernah mencoba, dijamin rugi deh….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar